Rabu, 06 Oktober 2010

Menjaga Vagina dari Keputihan yang Berlebihan

Cairan pada vagina yang ditandai dengan jumlah cairan yang sedang, berwarna bening, tidak bau, dan tidak disertai rasa gatal, merupakan tanda-tanda normal bagi kaum wanita. Jika keluarnya cairan berlebihan pada vagina dengan warna cairan bervariasi , bau, dan terasa gatal, maka Anda perlu waspadai!

Vagina adalah organ intim kewanitaan yang merupakan saluran berbentuk seperti tabung “selongsong” yang menghubungkan vulva (bagian luar sistem reproduksi wanita) ke uterus (rahim). Vagina berfungsi sebagai saluran ekskresi cairan terutama darah haid, sebagai alat untuk melakukan hubungan seksual, dan jalan untuk keluarnya janin dari hasil pembuahan sel telur dengan sperma saat melahirkan. Selain itu, vagina juga dapat mengeluarkan cairan–cairan khas yang merembes keluar sekitar mulut vagina dan itu adalah normal.

Normalnya cairan atau sekret pada vagina diproduksi dalam jumlah yang sedang, berwarna bening, tidak bau, dan tidak disertai rasa gatal. Namun, dalam keadaan tertentu, jumlah cairan ini bisa bertambah atau berkurang seiring dengan naik turunnya kadar hormon estrogen (hormon seks wanita). Pengeluaran cairan yang jumlahnya agak banyak tetapi normal atau yang biasa disebut dengan sekret fisiologis, bisa terjadi karena adanya rangsangan seksual, ovulasi (pelepasan sel telur) atau menjelang menstruasi, dan kehamilan. Peningkatan sekret vagina seperti ini masih dianggap normal selama tidak ada gejala lain yang mengganggu kenyamanan pada daerah kewanitaan tersebut. Jika keluarnya cairan berlebihan pada vagina dengan warna cairan bervariasi, bau, dan terasa gatal, maka Anda perlu waspadai!

Secara alami, vagina memiliki pelindung yang disebut dengan pH (derajat keasaman). Normal pH pada vagina adalah 3,5 – 4,5 pH. Namun pH ini bisa rusak dan menimbulkan berbagai keluhan bila cara merawatnya salah. Terlalu seringnya membersihkan vagina dengan sabun pencuci kewanitaan atau ramuan rempah pewangi, justru dapat merusak pH-nya.

Sebagai wanita, kebersihan vagina perlu dijaga dengan baik. Tidak disarankan untuk menggunakan bahan-bahan yang dapat mengiritasi kulit vagina. Misalnya dengan menggunakan sabun khusus kewanitaan yang berparfum atau vaginal douches (cairan pembersih vagina). “Perlu diingat, bahwa vagina memang memiliki bau khas yang sebenarnya tidak mengganggu sepanjang vagina itu sehat dan tidak ada penyakit,” kata seksolog dari Min Klinik, dr. Ferryal Loetan, ASC & T, SpRM, MKes.

Penyebab.
Menurut dokter dari ahli kebidanan dan kandungan, RSPP Jakarta, dr. Erwinsyah H. Harahap, SpOG, MKes kepada Femme, pekan lalu, keputihan terbagi menjadi dua macam, yaitu fisiologis dan patologis. Fisiologis adalah cairan atau sekret pada vagina yang banyak mengandung epitel dengan leukosit yang jarang. Sedangkan patologis, cairan yang mengandung lebih banyak leukosit. Adapun ciri masing-masing sekret ini berbeda-beda. Pada sekret fisiologis, cairan yang keluar tidak bau, tidak gatal, warnanya bening, putih, dan jumlah cairan yang dikeluarkan tidak berlebihan. Sedangkan sekret patologis, cairan yang keluar bau, vagina terasa gatal, mengalami perubahan warna menjadi putih kekuning-kuningan, putih kehijau-hijauan dan jumlah cairan yang dikeluarkan berlebihan.

Dari kedua jenis keputihan tersebut, tambah dokter spesialis kulit, kelamin, dan kosmetik medik, dr. Tri Wilujeng Prihartini, SpKK, yang menimbulkan masalah dan menyebabkan kelainan adalah sekret patologis. Dimana sekret patologis pada vagina tersebut infeksi yang disebabkan karena kuman, parasit, virus, dan jamur.

Adapun keputihan yang disebabkan oleh jamur, lebih sering dialami adalah jamur jenis Candida Albicans. Candida Albicans adalah flora normal pada vagina. Faktor sehari-hari juga dapat menjadi faktor predisposisi keputihan karena candida seperti pakaian dalam terbuat dari bahan nilon, jeans yang terlalu ketat, tisu toilet yang berparfum, serta penggunaan antibiotika dan obat-obat tertentu.

Selain itu, kata dr. Tri, infeksi tidak terjadi karena jamur, kuman, parasit, dan virus saja tetapi bisa juga disebabkan karena benda asing, gangguan hormonal, kelainan pada alat kelamin, serta kanker pada leher rahim. Iritasi pada vagina biasanya ditandai dengan rasa perih, meradang, merah, terasa gatal, panas, dan bengkak. Hal ini disebabkan karena keringat berlebih, gesekan pada celana yang ketat, garukan kuku, menggunakan sabun yang berlebih, dan cairan pembersih kewanitaan.

Ditambahkan dr. Tri, yang menyebabkan vagina mengeluarkan cairan berlebihan tidak seperti biasanya, seperti bau, warna yang tiba-tiba berubah, gatal, bukan dipicu oleh faktor makanan seperti timun atau nanas melainkan karena pengaruh stres fisik, kelelahan, dan infeksi.

Selain itu, sering bertukar celana dalam atau handuk, seks bebas, sering mandi berendam dengan air hangat, tidak segera mengganti pembalut saat menstruasi, dan tidak menjalani pola hidup yang sehat seperti makan tidak teratur, tidak pernah berolahraga, kurang tidur juga bisa menjadi penyebab keputihan. Biasanya keputihan yang ada pada bibir vagina itu disebabkan karena jamur. “Tapi kebanyakan wanita beranggapan mereka keputihan bukan karena jamur,” terang dr. Tri.

Risiko. Menurut dr. Erwin, bila keputihan yang berlebih tidak segera diobati, bisa mengakibatkan iritasi lokal ringan, dan dalam jangka waktu yang panjang akan menimbulkan penyakit radang panggul serta dapat menyebabkan kemandulan (infertilitas) karena kerusakan dan tersumbatnya saluran sel telur. “Jadi, bila mengalami keputihan tidak seperti biasanya, lebih baik berkonsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin atau ke dokter spesialis kandungan,” terang dr. Erwin.

Penanganan. Keputihan merupakan masalah higienitas, dan penanganan keputihan tersebut tergantung dari penyebabnya. Biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengatahui penyebabnya. Cara mencegah keputihan salah satunya dengan menjaga kebersihan vagina, misalnya membersihkan bagian luar vagina dengan air bersih dan air sabun saja, menghindari penggunaan vaginal dounching (cairan pembersih kewanitaan) secara rutin, maupun produk hygiene wanita lain seperti desinfektan, bahan pengering atau pengencang vagina, tidak memakai jeans terlalu ketat, celana dalam bukan dari bahan katun, tisu toilet yang berparfum, bila keputihan banyak yang keluar sebaikya menggunakan panty liner dan tiap 3 jam sekali diganti.

Sementara dr Ferry menambahkan mencuci vagina sebaiknya dilakukan mengarah ke anus. Usai dicuci harus dikeringkan atau mengganti celana dalam yang bersih. Bila tidak, vagina yang basah dan lembab tersebut dapat merangsang tumbuhnya jamur, bakteri, dan kuman,” jelas dr. Ferry. Noprica Handayani

“Suamiku tumbal konflik petinggi di Artha Graha”

Tyas Rumanti, Istri Aan, Korban Penganiayaan Polisi dan Oknum Petinggi Artha Graha Group

Banyaknya dugaan rekayasa dan kejanggalan-kejanggalan saat proses hukum di persidangan membuat kita kembali bertanya-tanya, adakah keadilan bagi rakyat kecil? Seperti yang dialami Susandi alias Aan, staf keuangan PT Maritim Timur jaya (MTJ), di Gedung Artha Graha tiga bulan yang lalu. Berawal dari konflik yang terjadi antarpetinggi Artha Graha Group, David Tjioe dan Ronny Brata Wijaya. Karena Aan bekerja pada masa kepemimpinan David Tjioe dan berhubungan baik, Ronny mengira Aan adalah orang kepercayaan David yang mengetahui banyak hal mengenai David. Berdasarkan dugaan inilah Aan akhirnya beberapa kali diinterogasi dan yang terakhir interogasi disertai kekerasan fisik. Tidak cukup sampai di situ, oleh pihak Artha Graha, Aan dijebak dengan Narkoba yang sebelumnya ditaruh di dompetnya saat ia ditelanjangi di kantor tersebut. Tadinya kasus ini seperti dipetieskan oleh kepolisian, maklum pemilik Artha Graha selama ini diketahui dekat dengan jajaran Kepolisian. Allah Maha Besar, ketika ada LSM yang membantu istri Aan untuk melaporkan kasus ini ke Satgas Mafia Hukum, sehingga kasus ini bisa terangkat ke permukaan. Bagaimana cerita sebenarnya versi istri Aan? Berikut curahan hatinya pada Femme!

Aku merasakan ketakutan yang sangat hebat saat menerima SMS dari suamiku, Susandi atau yang biasa aku panggil Aan, pada hari Senin (14/12/09), sekitar pukul 18.00 WIB. “Sayang, cepat jemput aku di kantor. Aku takut,” bunyi SMS Aan saat itu. Tak lama setelah membaca SMS dari suamiku, detak jantungku kian kencang. Aku gelisah dan serba salah. Sejenak aku mencoba untuk menenangkan diri saat azan Maghrib berkumandang. Lalu ku teguk secangkir air putih untuk membasahi tenggorokanku yang kering setelah menjalani puasa sunah Senin – Kamis.

Usai sholat Maghrib, Aku langsung beranjak menuju kantor suamiku yang bertempat di gedung Artha Graha tak jauh dari kantorku di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sebelumya, aku sudah merasakan firasat tidak enak sejak pukul 06.30 WIB, saat aku menemani suamiku untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor. Sempat aku nyatakan perasaanku ini padanya, namun dengan cepat Aan menghiburku.

Semestinya hari itu, Senin (14/12), suamiku sudah tidak lagi bekerja di PT Maritim Timur Jaya (MTJ). Karena pada tanggal 25 November 2009, semua karyawan di perusahaan tersebut sudah di PHK (Pemutusan Hak Kerja) secara massal termasuk Direktur Utamanya, David Tjioe, tak terkecuali suamiku.

Namun berhubung posisi Aan di MTJ di bagian keuangan, maka Aan harus menyelesaikan filing (berkas-berkas) atau koordinasi administrasi terkait dengan tanggung jawab kerjanya. Setelah semua tugas Aan selesai, tak lama kemudian Aan didatangi tiga orang Polda Maluku.

Sementara itu, siang sekitar pukul 12.00 WIB, saat aku sedang makan siang, hatiku semakin berdebar kencang dan gelisah. Sejak dari pagi tadi tubuhku terasa lemas dan tidak fokus dalam menyelesaikan pekerjaan. Sesaat aku menenangkan piranku dengan meyakinkan diriku kalau semua ini hanya perasaanku saja dan mungkin juga karena pengaruh puasa yang aku jalani tanpa makan sahur.

Meski demikian, aku terus meng-SMS suamiku untuk mengingatkan makan siang dan bertanya bagaimana keadaan dia dan sedang mengerjakan apa. Tak lama, setelah Aan membalas SMSku dan mengetahui dia baik-baik saja, aku pun merasa sedikit lega.
Namun setelah dua jam berlalu, suamiku mengirim SMS dan mengatakan dia diinterogasi lagi oleh Polda Maluku dengan penyidik yang berbeda. Perlu diketahui, sebelumnya suamiku sudah dua kali diinterogasi oleh pihak Polda Maluku, yaitu pada tanggal 7 dan 11 Desember 2009, terkait kasus kepemilikan Narkoba David Tjioe, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama PT MTJ (PT MTJ milik Grup Artha Graha beroperasional di Daerah Maluku-red). Siang itu, untuk ketiga kalinya Aan menjalani interogasi tanpa adanya surat keterangan dari pihak kepolisian Maluku.

Tak lama kemudian, suamiku mengirim SMS lagi padaku agar segera dijemput di kantornya. Sesegera mungkin, setelah berbuka puasa dengan segelas air putih dan sholat Magrib, aku langsung ke kantor suamiku. Dalam perjalanan hingga sesampainya di kantor Aan, aku terus berusaha untuk menghubungi dan mengirim SMS padanya. Namun tidak sekalipun Aan membalas atau mengangkat teleponku.

Satu jam sudah aku menunggu Aan di ruang resepsionis, namun belum juga ada kabar dari Aan. Aku pun bertanya ke Vini, salah satu resepsionis MTJ yang aku kenal. Kata Vini, saat itu Aan masih meeting.

Penuh keheranan, aku bertanya pada diriku sendiri. “Sejak kapan Aan meeting hingga pukul 8 malam. Padahal biasanya paling lama hanya sampai pukul 5 sore saja,” pikirku tambah cemas. Aku hanya bisa berdoa dan meminta pada Allah, agar suamiku dalam keadaan baik-baik saja.

Namun aku semakin ketakutan saat aku mendengar suara bentakan yang sangat keras dan pukulan meja, dari balik tembok triplek ruang resepsionis. Tubuhku bergetar hebat, aku khawatir dan takut terjadi apa-apa pada Aan, mengingat kondisi Aan pada Jumat (11/12) malam setelah dilakukannya interogasi kedua, ia selalu bolak-balik buang air kecil dan merasakan kurang enak badan.

Di tempat yang sama, Hendra, salah satu Office Boy di MTJ meminta Aku untuk berdoa dan sabar. Namun sepertinya mereka tidak peduli bagaimana perasaan yang ku rasakan saat itu. Detak jantung semakin kencang dan lututku lemas. Saat itu, rasanya aku ingin sekali teriak dan menerobos masuk ke ruang rapat tersebut. Namun niat itu aku urungkan kembali. Pikirku kalau saja memang meeting beneran, aku sudah mempermalukan diri sendiri dan suamiku di dalam forum.

Pukul 20.00 WIB, sempat aku disarankan pulang oleh Indrayanto, salah satu atasan keuangan Aan di MTJ melalui teleponnya pada Hendra. Tapi aku tidak mempedulikannya. Aku banyak melihat orang-orang ber-face Ambon, keluar masuk ruangan meeting di kantor pusat PT MTJ di gedung Artha Graha. Sekitar pukul 21.00 WIB, lampu mati dan masih di tempat yang sama, Aku disapa oleh seorang pria. Ternyata pria itu adalah Sunggul Sirait, orang yang pernah diberi kuasa sebagai pengacara oleh suamiku. Namun karena gelap dan hanya ada cahaya redup dari lampu dinding, Aku tidak begitu ngeh kalau itu Bang Sunggul.

Satu jam kemudian, sekitar pukul 22.00 WIB, Bang Sunggul keluar dan ia tidak mengatakan apapun selain pamit pulang. Tak lama setelah itu aku ditemui Glen, teman satu kantor Aan. Mungkin Glen melihatku lelah, sehingga akupun diberinya jajanan ringan. Pikirku saat itu, Glen adalah orang yang baik dan salah satu teman dekat Aan di kantor. Ternyata dugaanku salah, Glen adalah salah satu saksi yang memberatkan suamiku di persidangan sebelumnya. Sampai sekarang aku tidak habis pikir kenapa Glen mau bersaksi palsu untuk memberatkan kasus suamiku di persidangan i. Memangnya suamiku punya salah apa?

Malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan angka 12. Ku lihat ada beberapa orang bertubuh besar datang dan masuk ke ruang meeting suamiku, yang tak lain polisi dari Polda Metro Jaya. Dengan perut kosong dan mata yang sedikit berat, kembali kutanyakan keberadaan suamiku pada Hendra, OB tadi. Namun, tak ada sedikit pun rasa keprihatinan yang ku lihat dari wajahnya. Ia terlihat asyik nonton TV dengan dua orang lainnya yaitu Nanang, sopir operasional MTJ dan Glen. “Kalau mau nunggu, nunggu aja, Mbak. Saya ini juga capek, dari kemarin belum pulang!,” bentak OB itu dengan nada kesal. Menerima jawaban yang tak mengenakkan itu Aku semakin takut. Ketegaran yang aku miliki sejak 6 jam sebelumnya seperti gunung es yang mencair.
Tapi aku harus kuat, aku harus bertemu suamiku malam ini juga. Sambil terus berdoa, tak lama kemudian ku lihat sosok suamiku dari balik pintu dengan menggunakan pakaian yang sedikit berantakan. Ia keluar dengan dikawal satu orang pria. Aku langsung berdiri dan menyapa suamiku. Tapi Aan seolah-olah tidak mendengar dan melihat. Dia terus berjalan dengan kepala tertunduk ke arah toilet. Melihat itu, jantungku rasanya mau copot. Ada apa dengan suamiku? Wajah yang ku lihat ceria pagi tadi, malam itu seperti orang ketakutan dengan wajah pucat pasi. Saat itulah Aku baru tahu kalau di ruang meeting, Aan diinterogasi dan “dikeroyok” banyak orang.

Lima menit kemudian Aan keluar dari dalam toilet, sambil melangkah masuk ke ruangan tadi. Ia tetap tidak menyapa bahkan tidak melirik sedikitpun ke arahku. Sebagai seorang istri, aku bisa merasakan ketakutan yang luar biasa pada suamiku. Saat itu, rasanya tubuhku lemas lunglai. Ku usap air mata di kedua kelopak mataku agar tidak jatuh menetes.

Setelah tujuh jam lamanya aku menunggu, tepat pukul 01.30 WIB, akhirnya Aan keluar juga. Betapa kagetnya aku saat itu. Aku melihat suamiku dengan wajah lebam, jidat benjol dan kedua tangan di borgol. Sambil mendekat Aan berkata “Aku ditahan”. Seperti tersambar petir, aku hanya bengong setengah tidak percaya. Bagaimana bisa suamiku yang aku kenal tidak neko-neko dan taat beribadah, ditahan.

Suamiku pun digiring ke bawah. Aku hanya bisa terduduk diam dan membisu. Melihat sikapku, salah satu pria berkulit hitam itu menyuruhku pulang. Memang aku terlihat seperti orang kebingungan. Tak lama handphone-ku bergetar. Aku menerima SMS dari suamiku. “Aku tunggu di lobi bawah. Aku takut, kamu ikut ke Polda Metro Jaya ya,” pinta Aan padaku.

Akhirnya dini hari itu, dengan menggunakan mobil Honda Jazz berwarna silver, aku berhasil meminta petugas kepolisian untuk ikut bareng suamiku ke Polda. Masih teringat jelas diingatan, di dalam mobil, kami berjumlah 5 orang. Aku duduk di depan sebelah Agus yang mengendarai mobil, sedangkan suamiku duduk di belakang dan diapit oleh Kompol Apollo Sinambela dan Agung yang duduk di sebelah kiri. Mereka semua adalah dari pihak kepolisian Polda Metro Jaya yang datang pada pukul 24.00 WIB ke Gedung Artha Graha.

Setibanya di Polda Metro Jaya dan di ruang kerja Apollo pada Selasa (15/12/09) pukul 02.00 WIB, Aku melihat jelas kondisi tubuh suamiku. Ia terlihat sangat trauma dengan kepala benjol dan bibir bawah bagian kanan terlihat darah membeku. Aku berusaha untuk tidak menumpahkan air mata di pipi walau tenggorokan mulai nyesek dan hatiku sangat teriris. Aku merasakan kedua tangan suamiku dingin dan gemetar hebat saat kedua tangannya memegang tangan kiriku. Setelah Aan sedikit tenang, pelan-pelan Aan menceritakan semua kejadian selama ia diinterogasi di gedung Artha Graha lantai 8 dari pukul 14.00 WIB hingga Selasa (15/12) dinihari pukul 02.00 WIB pagi.

Kronologis. Setelah menyelesaikan tugas filing keuangan di kantor, pada pukul 14.00 WIB, Aan ditemui oleh Viktor B Laiskodat, Komisaris Utama PT Maritim Timur Jaya, bersama tiga orang polisi dari Ditreskrim Polda Maluku yaitu Kombes Pol Jhon Siahaan, Ipda Jhoni dan Brigadir Obed serta dua penyidik lainnya. Setelah bertemu, Aan dibawa ke ruang meeting yang berada di lantai 8 gedung Artha Graha. Lalu Aan disekap, ditelanjangi oleh salah satu Polda Maluku, dan hanya memakai celana dalam.

Di dalam ruang tersebut, Aan diinterogasi dan diminta sebagai saksi terkait dugaan kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dari mantan pimpinan MTJ, David Tjioe, oleh Viktor B Laiskodat dan disaksikan tiga anggota Polda Maluku (Jhon Siahaan, Ipda Jhoni dan Brigadir Obed –red) sedangkan dua penyidik yang lain berada di luar.
Aan yang saat itu menolak dan mengatakan tidak tahu apa-apa mengenai kepemilikan senpi tersebut, mendapat bogem mentah di wajah dan kepalanya . Tak puas sampai di situ, dada suamiku ditendang. Ternyata pada pukul 12 malam di ruang resepsionis saat aku bertemu Aan yang hendak ke toilet, Aan sudah mendapatkan kekerasan fisik dengan pukulan dan tendangan. Agar semuanya terlihat tidak terjadi apa-apa, sebelum ke luar dan menuju toilet Aan diminta menggunakan pakaian dan tidak diperbolehkan menyapaku. Mendengar pengakuan itu tubuhku lemas, namun aku berusaha tegar di hadapan suamiku yang terlihat seperti orang paranoid dan trauma hebat.

Dengan mulut yang sulit digerakkan, lalu Aan kembali berusaha menceritakan kejadian pahit itu. Saat tubuh suamiku sudah tak berdaya dan terasa remuk, dengan menodongkan pistol di kepala, Viktor masih saja memaksakan Aan sebagai saksi dan menanyakan di mana senpi yang dimiliki David Tjioe disembunyikan. Padahal saat itu, Aan sudah mengatakan bahwa senpi dititipkan ke Salim, adik dari David Tjioe. Namun Viktor tidak percaya begitu saja, Viktor beranggapan bahwa suamiku adalah orang kepercayaan David dan tahu banyak mengenai David. Memang saat di kantor, Aan dekat dengan David, tapi itu semua hanya sebatas pekerjaan. Suamiku hanya karyawan biasa seperti yang lain dan tidak ada perlakuan khusus.

Setelah selesai Viktor menginterogasi, sekitar pukul 00.30 WIB, dua orang anggota kepolisian dari Polda Metro Jaya yaitu Apollo dan Agung masuk ke dalam ruangan dan menginterogasi suamiku dengan alasan yang berbeda. Saat menginterogasi, mereka mengatakan bahwa menemukan serbuk yang diduga ekstasi di dalam dompet suamiku. Dan saat itulah suamiku ditetapkan sebagai tersangka kasus kepemilikan narkoba.

Bagiku tuduhan yang dikenakan itu tidaklah masuk akal. Karena Minggu (13/12) malam sebelum kejadian Aan sempat minta uang padaku sebanyak Rp 300 ribu dan meminta aku untuk memasukkannya ke dalam dompet. Aan juga tidak pernah sekalipun keberatan jika aku memeriksa isi dompetnya. Jadi aku mengetahui pasti apa saja yang ada di dalam dompet suamiku. Bagiku, tuduhan pihak kepolisian tersebut tidak masuk akal, aku tidak percaya. Suamiku bagaikan tumbal konflik internal petinggi MTJ di gedung Artha Graha yang menjulang tinggi di kawasan Sudirman, Jakarta.

Diteror. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran salah satu petinggi di gedung Artha Graha itu. Masih dalam keadaan hati dan pikiran yang “kacau”, aku dan mertuaku diteror melalui telepon. Mereka mengancam kalau Aan tidak akan bebas dan dijatuhi hukuman 12 tahun penjara jika tidak memberi tahu semua rahasia David Tjioe.

Setelah menerima teror, Ibu Mertuaku yang saat itu sedang sakit, langsung shocked dan ketakutan. Aku pun sampai saat ini, seperti orang autis, tidak berani mendengar berita televisi. Aku masih sangat parno dan takut tiap kali berangkat ke kantor. Pasalnya gedung di tempat aku bekerja saat ini berhadapan dengan gedung Artha Graha. Untunglah ada seorang teman perempuan yang baik dan mau pulang berangkat kerja bareng. Bila dia cuti, dia mencarikan seorang teman untuk menemaniku.

Pernah aku mencoba untuk resign tapi tidak diijinkan Direkturku. Atasanku mengatakan jika aku harus terus survive meski suami saat ini sedang bermasalah, berada di tahanan dan tidak memiliki pekerjaan. Dia pun memberikanku dispensasi jika tidak masuk ke kantor karena mengurus proses hukum suamiku. Dengan catatan tidak menyelesaikan pekerjaan.

Pasrah. Dengan kejadian ini, aku tidak menyalahkan takdir Tuhan. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa untuk kebebasan Aan. Aku percaya kebesaran Allah SWT di balik semua ini. Walau bobot tubuhku sudah turun 7 kg dari 52 kg, Aku tidak pernah menampakkan wajah lelah dan sedih di depan Aan. Aku selalu memberi semangat dan cerita lucu. Selama di tahanan, aku dan Aan selalu bertukar buku harian. Terakhir isi buku harian yang ditulis Aan berbunyi, ‘Semoga Allah SWT mengizinkan kita untuk berkumpul lagi, memiliki keturunan dan membina rumah tangga yang lebih baik lagi’.

Memang aku selalu berusaha terlihat tegar di hadapannya, tapi sesampainya di rumah, di dalam kamar Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak tega melihat suamiku yang sudah terlihat kurus di dalam jeruji besi. Apalagi jika aku merapikan baju Aan di dalam lemari dan melihat tempe orek makanan kesukaannya di rumah.

Terus terang aku benci sekali dengan Apollo yang menuduh bahwa aku dan Aan hidup senang dengan banyak mobil dan uang miliaran. Padahal aku dan Aan masih tinggal di rumah orangtua dan hanya memiliki motor Honda Mega Pro saja. Sempat Aku berpikir, kenapa ada orang yang tidak memiliki hati nurani seperti Viktor dan Polda Maluku dengan tega menyakiti dan menganiaya suamiku yang hanya karyawan biasa. Selain itu Aku juga masih menaruh kebencian dengan Kismadi, salah satu polisi di Polda Metro Jaya yang berlagak baik dan kebapakkan. Pasalnya Aku sangat tahu, pada hari Selasa (15/12/09) sekitar pukul 06.00 WIB bahwa Kismadi-lah yang membawa dan menyuruh suamiku dalam keadaan tidak berdaya untuk menandatangani banyak berkas yang tidak diperlihatkan apa isi dari berkas tersebut. “Maaf, ya, bu, saya hanya menjalankan tugas,” jawab Kismadi saat ku tanya kenapa tega berbuat itu.

Anak Asuh. Saat ini yang selalu ada dalam pikiran Aan adalah nasib ke 58 anak asuhnya yang ada di Jakarta. Karena Aan adalah salah satu pengurus dan orang kepercayaan donatur dari beberapa kalangan artis. Aku yang sudah berusaha menghubungi beberapa donatur tersebut, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku juga mulai bingung, karena sisa tabungan Aan dari uang pesangon PHK sebanyak Rp 30 juta kini tinggal Rp 5 juta. Padahal uang tersebut hanya aku gunakan untuk kebutuhan sehari-hari selama tiga bulan terakhir, membayar asuransi dan membayar tagihan kartu kredit, serta bolak-balik mengurus proses hukum Aan.

Harapan. Ternyata benar, Allah Maha Mendengar dan tidak tidur. Aku sangat terharu dan senang karena masih ada orang yang baik dan peduli dengan keadaan suamiku. Selain dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Komisi Yudisial, beberapa pengacara, ada 28 orang dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang bersedia melindungi dan menerima kuasa hukum untuk suamiku.

Terutama Edwin Partogi, seorang Aktivis Kontras dari Divisi Politik, Hukum dan HAM juga sebagai senior Aan saat masih aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain itu, Aan juga kenal baik dengan keluarga Edwin. Makanya saat sidang kelima kemarin, Aku sempat stres. Karena sakit, Bang Edwin berhalangan hadir. Sebab dengan adanya Bang Edwin cukup melegakan hati dan membuat kami tenang.

Aku menyadari bahwa kasus yang dialami Aan ini melibatkan “orang besar”. Namun Aku percaya di atas “orang besar” masih ada “orang besar” lain lagi. Dengan bukti-bukti dan saksi yang lemah untuk menyudutkan suamiku saat di persidangan, aku berharap hasil sidang lanjutan nanti membebaskan Aan dari segala tuntutan hukum. Dan aku bersama Aan kembali menjalani kehidupan rumah tangga seperti biasanya, serta dapat merealisasikan rencana bulan madu ke Bali dan Lombok yang sejak awal pernikahan belum sempat terwujud, karena Aku dan Aan disibukkan dengan pekerjaan kantor yang menumpuk. Noprica Handayani

Mengenai Asam Urat

Konsumsi Seafood, Makanan Kaleng, dan Jeroan, Berisiko Tinggi Terserang Asam Urat

Penyakit asam urat ternyata sangat terkait dengan pola makan. Jika Anda penggemar makanan seafood seperti udang, kepiting, kerang, atau makanan kaleng seperti kornet, atau aneka jeroan seperti hati, usus, ampela, kemungkinan besar Anda sudah terserang penyakit asam urat. Apalagi, jika Anda seorang pria berusia di atas 40 tahun, paling rentan terkena penyakit yang menyerang persendian ini. Apa saja penyebab, gejala, dan cara mengatasinya?

Penyakit asam urat adalah penyakit yang menyerang sendi dan tendon yang disebabkan timbunan asam urat yang berlebih dan membentuk kristal. Ginjal adalah organ yang mengatur kestabilan kadar asam urat dalam tubuh dan akan membawa sisa asam urat ke pembuangan air seni. Namun jika kadar asam urat itu berlebihan, ginjal tidak akan sanggup mengaturnya sehingga kelebihan itu akan menumpuk pada jaringan dan sendi, membentuk kristal. Kandungan asam urat yang tinggi menyebabkan nyeri dan sakit di persedian yang amat sangat. Sendi-sendi yang diserang terutama sendi jempol kaki, engkel kaki, pergelangan kaki, tumit, lutut, siku. Selain nyeri, penyakit asam urat juga dapat membuat persendian membengkak, meradang, panas dan kaku.

Penyebab. Asam urat adalah suatu zat dari hasil metabolisme bahan pangan yang mengandung purin (salah satu bagian dari protein). Karena itu, kadar asam urat dalam diri seseorang sangat berhubungan erat dengan makanan yang dikonsumsinya. Maka, hindarilah mengonsumsi makanan yang mengandung kadar purin tinggi, seperti minuman fermentasi dan mengandung alkohol; udang, tiram, kepiting, kerang; berbagai jenis makanan kaleng seperti sarden, kornet sapi; berbagai jeroan seperti hati, ginjal, jantung, otak, paru, limpa, usus; buah-buahan tertentu seperti durian, alpukat dan es kelapa.

Menurut dr Cosphiadi Irawan, SpPD, KHOM, dari RSCM, makanan yang bersumber dari produk hewani biasanya mengandung purin yang sangat tinggi. Jika mengonsumsi makanan ini tanpa perhitungan, jumlah purin dalam tubuh dapat melewati ambang batas normal. “Sayangnya, fakta ini masih belum diketahui masyarakat secara luas. Akibatnya banyak orang suka menyamaratakan semua makanan tanpa mempertimbangkan kandungan di dalamnya,” jelas dr. Cosphiadi. Kadar asam urat yang normal pada pria adalah 3,5-7 miligram per desiliter (mg/dl) dan pada perempuan 2,6-6 mg/dl.

Kelebihan asam urat atau hyper uricemia disebabkan karena produksi asam urat meningkat atau pengeluaran asam urat oleh ginjal menurun. Hyper uricemia terdiri dari dua macam, yaitu primer dan sekunder. Pada hyper uricemia primer, ginjal yang berfungsi menyaring kotoran dari darah dan mengeluarkan hasil metabolisme dalam bentuk urine, tanpa sebab yang jelas menurun kemampuannya untuk mengeluarkan asam urat dari tubuh. “Nah, hasil metabolisme yang akan dikeluarkan oleh ginjal tadi terserap lagi oleh sel-sel ginjal yaitu tubulus,” jelas dr. Cosphiadi. Hyper uricemia primer diduga karena kelainan ginjal yang juga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik (turunan) dan faktor enzim yang menyebabkan gangguan metabolisme seingga mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat. “Sebenarnya yang mengalami hyper uricemia primer ini makannya normal, tapi entah kenapa kemampuan pengeluarannya tidak bagus. Dan sebagian besar biasanya faktor genetik sangat berperan pada penderita asam urat,” terang dr. Cosphiadi.

Sedangkan hyper uricemia sekunder disebabkan karena berbagai faktor patologis, yaitu gangguan fungsi ginjal, karena penyakit ganas seperti tumor, kanker, leukemia atau penyakit-penyakit sel darah yang cepat membelah dirinya yang mana terjadi produksi sel darah berlebih, karena obat-obatan (obat kanker dan Vitamin B12), obesitas (kegemukan), dan meningkatnya produksi asam urat karena nutrisi, yaitu mengonsumsi makanan dengan kadar purin yang tinggi. “Kalau penyebab asam uratnya jelas itu berarti hyper uricemia sekunder,” kata dr. Cosphiadi.

Hal senada juga diungkapkan oleh dr. Titi Sekarindah, SpGK dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Menurutnya, pengeluaran asam urat menurun biasanya terjadi pada penyakit ginjal atau pada pemberian obat-obatan tertentu. Kadar asam urat tinggi dapat menyebabkan penimbunan kristal asam urat pada cairan sendi yang nantinya dapat menimbulkan penyakit gout arthriteis (radang sendi) dan penimbunan asam urat dalam ginjal yang dapat menyebabkan batu ginjal. “Yang bikin orang ketakutan jika mengalami asam urat yaitu menumpuknya asam urat pada sendi-sendi yang berbentuk semacam benjolan atau bisul yang berisi kristal asam urat disebut Thopi,” kata dr. Titi.

“Kalau tidak diobati akan sakit terus. Pada kondisi tertentu masa bebas sakitnya makin lama makin pendek, biasanya mengalami satu tahun sekali bisa berkurang menjadi delapan bulan sekali, enam bulan sekali dan seterusnya,” jelas dr Cosphiadi.

Gejala. Gejala khas penyakit asam urat adalah serangan bersifat monoartikular (menyerang pada satu sendi saja) berupa pembengkakan, kemerahan, nyeri hebat, panas, dan mengganggu pergerakan sendi. Bahkan saat tidur akan merasakan sakit walau hanya terkena selimut.

Ada tiga tahapan serangan penyakit asam urat. Tahap pertama yaitu gout arthriteis akut, penderita akan merasa nyeri yang hebat pada persendian dan serangan itu akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5 – 7 hari. Karena cepat menghilang, sering penderita menduga kakinya keseleo atau kena infeksi dan tidak melakukan pemeriksaan lanjutan. Setelah serangan pertama, penderita akan mengalami gout interkritikal, di mana penderita akan sehat dalam jangka waktu tertentu yang berkisar 1 – 2 tahun sehingga penderita menduga serangan pertama dahulu tak ada hubungannya dengan penyakit gout arthriteis akut.

Tahap kedua disebut sebagai tahap gout arthreteis akut intermiten yaitu penderita akan seing mendapatkan serangan (kambuh) yang jarak antara serangan yang satu dan serangan berikutnya makin lama makin rapat dan lama, serangan makin lama makin panjang, serta jumlah sendi yang terserang makin banyak. Tahap ketiga disebut sebagai tahap gout arthreteis kronik bertophi. Tahap ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama sepuluh tahun atau lebih. Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering meradang. “Tophi pada kaki bila ukurannya besar dan banyak akan mengekibatkan penderita tidak dapat menggunakan sepatu lagi,” kata dr. Cosphiadi.

Lebih Banyak Pria. Umumnya yang mengalami penyakit asam urat adalah pria, sedangkan perempuan persentasenya lebih kecil dan baru muncul setelah masa menopause. Kadar asam urat pada pria cenderung meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.

Asam urat lebih banyak dialami pria karena tidak memiliki hormon estrogen seperti pada perempuan. Hormon ini membantu pembuangan asam urat melalui urine. Jadi, selama seorang perempuan mempunyai hormon estrogen, maka pembuangan asam uratnya ikut terkontrol. Ketika sudah tidak mempunyai hormon estrogen seperti saat menopause, barulah perempuan terkena asam urat.

Dr. Titi menambahkan, yang mengalami asam urat biasanya pada usia 40 tahun ke atas. Namun sebenarnya, pada usia 40 tahun ke atas tersebut adalah dampak yang ditimbulkan karena tingginya kadar asam urat yang sudah menumpuk atau mengendap di sendi yang mengalami inflamasi atau penekanan sejak 20 tahun sebelumnya. “Jadi, kita harus jaga asam uratnya agar tidak tinggi. Karena kalau tinggi nanti akan mengalami gout arthreteis,” jelas dr Titi.

Penanganan. Penanganan yang paling efektif adalah mengurangi konsumsi makanan yang mengandung purin tinggi, dan minum air putih yang dapat membantu mempercepat pengeluaran asam urat. Sebaiknya minum air putih 2 liter sehari atau setara dengan 8 gelas. Bila sudah terjadi gout arthtereis disarankan hanya mengonsumsi makanan golongan C (lihat sidebar). Bila perlu minum obat Allopurinol, dan gunakan obat untuk mengurangi rasa sakit yaitu Non Steroid Anti Inflamasi Drug (NSAID).

Juga perbanyak olahraga, hindari stress, melakukan diet seimbang dengan pola makan yang seimbang yaitu terdiri dari protein 15 persen, karbohidrat 50 – 60 persen, sayuran golongan B maksimal 2 kali seminggu, lemak kurang dari 30 persen, lalu menurunkan berat badan secara bertahap bagi penderita yang terlalu gemuk, karena bila penurunan berat badan dilakukan secara drastis dapat menyebabkan kenaikan kadar asam urat. “Tapi berdasarkan hasil survei, minum air putih dua gelas sebelum makan akan menurunkan berat badan,” terang dr Titi. Noprica Handayani

Golongan Makanan Berdasarkan Kandungan Kadar Purin

Makanan yang sebaiknya dihindari adalah makanan yang banyak mengandung purin tinggi. Berikut adalah penggolongan makanan berdasarkan kandungan purin:

1.Golongan A: Jenis makanan yang mengandung purin tinggi (150 – 1000 mg purin/100 gr bahan makanan). Yaitu hati, ginjal, otak, jantung, paru, usus, udang, remis, kerang, ikan hering, sardin, ekstrak daging (abon, dendeng), ragi (tape), bebek, makanan yang diawetkan dalam kaleng serta alkohol.

2.Golongan B: Jenis makanan yang mengandung purin sedang (50 – 100 mg purin/100 gr bahan makanan). Yaitu ikan yang tidak termasuk golongan A, daging sapi, kacang-kacangan dalam bentuk kering, kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur, kangkung, daun singkong, daun papaya, dan daun melinjo.

3.Golongan C: jenis makanan yang mengandung purin lebih ringan (< 50 mg purin/100 gr bahan makanan). Yaitu keju, susu, telur, sayuran lain, buah-buahan. Sayuran rendah purin di antaranya, wortel, labu siam, tomat, beet, brusel sprout, kol, seledri, jagung, terong, brokoli, selada air, okra, kentang, kacang panjang.

“Dengan sisa tenagaku kutendang dan kulawan penculik itu”

Tulisan ini adalah kisah nyata seorang gadis remaja bernama Yeni Andhika. Ia adalah korban selamat penculikan dan human trafficking di Jakarta Utara pada Februari 2010. Berikut kisahnya.

Jika selama ini penculikan gadis yang kemudian dipaksa untuk menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) hanya aku lihat di sinetron atau berita kriminal, kini kejadian ini benar-benar menimpaku. Hal yang tidak pernah ada sedikitpun dalam benakku. Aku yang tidak pandai bergaul dan merupakan sosok yang pendiam, sangat shocked dengan kejadian ini. Namun Aku masih bersyukur, Allah menyelamatkanku dari jurang kenistaan itu.

Panggil saja aku Yeni (17 tahun). Aku lahir dan besar di Jakarta. Saat ini aku tinggal bersama kedua orangtua dan ketiga adikku di sebuah pemukiman di daerah Penjaringan, Jakarta Utara. Aku anak pertama dari empat bersaudara. Sejak kecil aku adalah anak yang tertutup, pendiam dan tidak tertarik dengan gemerlapnya dunia luar. Yang aku tahu, aku sangat menyayangi orangtua dan ketiga adikku.

Saat ini aku duduk di bangku kelas 3 SMUN 40 di kawasan Jakarta Utara. Karena aku anak yang pertama, aku merasa memikul beban keluarga, harus membantu membiayai sekolah adik-adikku yang masih kecil dan membahagiakan keluarga. Singkat kata, aku harus membantu perekonomian keluarga. Oleh karena itu, tidak ada niatan sedikitpun untuk melanjutkan kuliah setelah aku lulus SMU. Karena biaya dari mana? Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja, keluargaku hanya bergantung dari hasil jerih payah ayah sebagai tukang ojek, sedangkan ibu hanya mengurus rumah dan adik-adikku. Maka dari itu, aku berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik di sekolah. Alhamdulillah, nilai terakhir semester kemarin cukup memuaskan. Aku dapat peringkat kedua di kelas.

Peristiwa. Aku memang bukan gadis cantik, tapi aku juga nggak jelek-jelek amat. Tinggi badanku 155 Cm dengan berat badan 43 Kg membuat bentuk tubuhku terlihat langsing. Belum lagi rambutku yang sedikit ikal dengan panjang setengah punggung dan kulitku yang putih bersih, menutupi kekurangan pada hidungku yang tidak terlalu mancung ini.

Peristiwa mengerikan itu masih terekam jelas diingatanku. Pagi itu, Sabtu (27/2) sekitar pukul 07.30 WIB, langit terlihat cerah. Seharusnya hari itu aku libur dan nikmati waktu bersantai di rumah bersama keluarga. Namun karena aku harus mengikuti pelajaran tambahan untuk persiapan EBTA pada Senin (8/3), dengan semangat aku memulai hari itu dengan penuh keceriaan. Ya, aku tidak ingin gagal saat ujian nasional nanti. Berjuta asa aku gantungkan pada nilai ujian akhir nasional, agar mudah mendapatkan kerja selepas SMU. Aku juga tidak mau mengecewakan orangtuaku karena sudah banyak biaya yang harus mereka keluarkan untuk membiayai sekolahku. Bagiku, sepeser Rupiah sungguh bernilai karena didapatkan dengan susah payah oleh Ayah.

Karena jarak antara sekolah dan rumah lumayan jauh, sekitar 6 km, kadang aku diantar Ayah atau Ibu, atau naik kendaraan umum dengan pindah angkutan sebanyak dua kali. Pagi itu, aku berangkat sekolah bersama ibu dengan mengendarai sepeda motor. Tapi karena tujuan aku dan ibu berbeda, kami berpisah di persimpangan jalan. Aku turun dan naik kendaraan umum, sedangkan ibu melanjutkan perjalanannya dengan sepeda motor. Takut telat sampai di sekolah, aku bergegas naik metro mini 02 yang ke arah kota.

Di tengah perjalanan menuju arah WTC Mangga Dua, lalu lintas padat merayap. Tidak seperti hari-hari biasanya, pagi ini lalu lintas sangat macet. Setelah metro mini yang aku tumpangi berada di depan WTC Mangga Dua, barulah aku tahu jika kemacetan ini akibat dari kebakaran di daerah Pademangan yang lokasinya tak jauh dari situ. Sekitar 30 menit angkutan yang aku tumpangi tertahan di tempat dan tidak dapat bergerak sedikitpun, akupun memutuskan turun dan pindah ke angkutan lain di jalan yang sudah bebas dari macet.

Dibekap. Begitu turun dari metro mini ternyata jalan raya ditutup dan tidak diperbolehkan siapapun melintasi jalan itu. Aku pun memilih ‘jalan tikus’ untuk memotong jalan agar cepat sampai ke sekolah. Pikirku saat itu, ‘jalan tikus’ adalah alternatif yang paling bagus supaya cepat sampai sekolah.Meski aku akui, aku sangat asing dengan jalan ini. Aku ingat sekali, saat itu aku berjalan dengan langkah lari-lari kecil di kawasan Budi Kemuliaan.

Setelah jauh dari jalan utama tempat aku turun dari angkutan umum tadi, saat aku ingin melewati jalan yang lebih kecil lagi, aku melihat ada tiga orang pria bertubuh besar dan berkulit hitam legam, menggenakan kaos hitam dan celana jeans. Tidak ada pilihan lain, aku pun memberanikan diri untuk melewati tiga orang berperawakan seperti orang Negro itu.

Saat itu suasana benar-benar sepi. Tidak ada siapa-siapa selain aku dan mereka. Dengan rasa takut dan detak jantung yang berdegup kencang, sambil menundukkan kepala dan merangkul tas di depan dada, aku melewati mereka dengan minta permisi terlebih dulu. Aku merasa saat ngeri saat itu. Jangankan bertemu dengan orang asing, di sekolah atau di sekitar rumah pun aku tidak berani untuk memulai menyapa atau bicara kepada orang lain. Ya, aku memang dikenal pendiam dan tertutup. Sifat ayahku lah yang banyak menurun ke aku.

Hup! Akhirnya aku melewati mereka juga. Namun sekitar 20 langkah kakiku melangkah dari tempat mereka duduk tadi, detak jantungku semakin berdetak cepat seakan tidak terkendali. Perasaan takutku semakin tak karuan, aku merasakan ada yang mengikutiku dari belakang. Tapi aku tidak berani menoleh ke belakang, aku takut jika memang merekalah yang mengikutiku. Namun suara langkah kaki yang lebih dari satu orang membuatku yakin jika merekalah yang mengikutiku.

Di saat langkahku semakin cepat, tiba-tiba ada tangan kuat yang mendorong dan menutup hidungku dengan sapu tangan dari arah belakang. Aku pun sudah tidak mengetahui apa yang terjadi denganku.

Tiba-tiba, aku terjaga dan saat itu aku sudah ada di ruangan sempit dengan tembok berwarna putih. Tak ada jendela dan tidak ada celah udara yang masuk ke dalamnya. Di ruangan pengap itu, ternyata aku tidak sendiri. Ada dua orang gadis seusiaku yang terus-menerus meneteskan air mata. Di saat itulah, baru aku tahu kalau aku bernasib sama dengan mereka. Aku diculik dan akan dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK) oleh tiga pria yang berperawakan tinggi besar, berkulit hitam yang aku temui di jalan kecil tadi pagi.

Diam-diam, aku tarik handphone CDMA ku dari kantong. Saat aku lihat jam di HP ku, ternyata sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Meskipun di ruangan itu kami hanya bertiga, tapi kami tidak saling sapa dan bicara antara satu dan lainnya. Lidah kami kelu, kami shocked, takut, dan memikirkan diri masing-masing. Seperti dua gadis itu, aku juga terus menerus terisak dan menangis. Hati dan pikiranku sudah bercampur aduk. Aku membayangkan seperti apa masa depanku jika aku tidak segera bertemu keluarga hari ini juga.

Berontak. Hingga pagi menjelang, aku dan dua gadis itu terus dijaga ketat oleh tiga laki-laki itu secara bergantian. Yang terus terlintas di pikiranku, bagaimana caranya aku bisa keluar dan melarikan diri dari tempat ini dengan selamat. Pelan-pelan, sambil memutar otak, aku mengikuti pola pikir penculik. Memang, selama dikurung aku tidak ditanyai apa-apa. Hanya saja, di ruang tempat yang aku berada, terus dijaga ketat secara bergantian.

Pagi itu, Minggu (28/2), sekitar pukul 05.30 WIB, aku dan dua gadis yang satu ruang denganku, diberi makan seadanya. Tak lama setelah itu, satu dari tiga pria yang berperawakan Negro menggiring aku ke arah mobil Toyota Kijang berwarna coklat. Dari percakapan mereka, aku mengetahui jika aku akan mereka bawa ke Batam untuk dijual dan dijadikan PSK (Pekerja Seks Komersial). Di saat itulah, aku berontak untuk melarikan diri. Dalam keadaan tangan yang tidak diikat, segera aku berbalik badan. Aku langsung menendang dan mendorong penculik itu. Satu laki-laki lainnya segera meraih tubuhku yang kurus. Aku dipukul, ditempeleng, dan didorong hingga tersungkur ke tanah. Saat itu aku merasakan pukulan yang sakit sekali dikedua bagian bahuku. Meski begitu, aku tidak mau menyerah, dengan sekuat tenaga yang aku punya, aku kembali melawan dan terus menendang penculik itu.

Alhamdulillah, Allah Maha Segalanya. Kembali aku diberi kekuatan hingga mampu mendorong dan menendang pria berkulit hitam itu hingga tersungkur. Dengan sekuat tenaga yang tersisa, aku lari sekencang mungkin tanpa tahu ke mana arah yang kutuju. Mereka pun tidak tinggal diam. Mereka mengejar aku dengan membabi buta. Hingga akhirnya tubuhku sangat lemas dan nafasku tersengal-sengal. Sambil berlari, aku menangis dan bingung mesti lari ke mana lagi. Semua yang terlihat hanya pohon-pohon dan persawahan. Tidak ada tanda kehidupan dan pemukiman yang terlihat. Sampai akhirnya aku sembunyi, masuk ke dalam sawah di antara jejeran pepohonan yang rimbun. Masih terasa terancam, aku tetap bertahan dan diam bersembunyi di tempat tersebut. Meski saat itu terik matahari sangat menyengat dan aku haus sekali, namun aku harus kuat hingga situasi aman untuk keluar dari tempat persembunyian.

Ditolong. Saat itu, sekitar pukul 17.00 WIB, pelan-pelan aku mulai melangkah keluar dari tempat persembunyian. Sambil berlari kecil dan bersembunyi aku mencari sumber suara lalu lintas. Ternyata sumber suara itu berasal dari atas. Agar dapat ke jalan raya aku harus berjalan dengan kemiringan jalan 50 derajat, sedikit mendaki memang. Saat itu aku haus, perutku sangat lapar, tubuhku lemas, dan wajahku pucat.
Sesampainya aku di jalan raya, aku terus berjalan hingga akhirnya aku melihat sebuah counter HP di pinggir jalan. Dengan suara terbata-bata dan tubuh gemeteran, aku bertanya lokasi tempat kini aku berada, pada gadis penjaga counter. “Cikopo, Cikampek,” jawab gadis itu penuh keheraan melihat keadaanku.

Aku ingin menelepon Ayah. Syukurlah HP CDMA ku masih ada di kantong. Tapi karena susah mendapatkan sinyal, akhirnya aku minta tolong gadis itu untuk menelpon ke nomor ayahku. Tak lama, telepon pun tersambung. Ada sedikit perasaan lega dalam hati ini. “Halo, pak. Ini Yeni. Jemput Yeni, pak,” tuturku sambil menangis saat mendengar suara Ayah di seberang sana. Karena aku sangat lemas dan tidak begitu paham daerah tersebut, akhirnya ayahku meminta agar telepon diberikan kepada gadis itu.

“Pak, cepat ke sini, Pak. Muka anak bapak pucat sekali. Anak bapak habis dikejar-kejar orang,” jelas gadis itu sedikit panik. “Di daerah mana, bu?” tanya ayahku lagi. “Di Cikopo, Pak,” jawab gadis yang berkulit sawo matang itu. Setelah itu, dengan rawut wajah yang cemas dan prihatin, ia langsung mengantar aku ke Pos Polisi Cikopo, Cikampek seperti saran ayahku. Sesampai di Pos Polisi itulah aku merasa aman dari kejaran tiga pria berkulit hitam seperti Negro itu.

Sekitar pukul 19.00 WIB ayahku tiba di Pos Polisi. Lalu Ayah menemaniku saat aku diinterogasi tentang kronologis kejadian oleh Polisi. Setelah selesai pemeriksaan, masih diliputi dengan perasaan takut, aku dan ayahku disuruh kembali ke rumah. Sepertinya penanganan polisi hanya sampai di situ saja. Polisi tidak berusaha memberikanku perlindungan khusus karena bagaimanapun juga semua identitasku ada ditangan penculik. Masih dengan perasaan was-was akupun pulang dengan ditemani ayah.

Setiba di rumah, sekitar pukul 23.30 WIB, aku disambut dengan mata berlinang oleh ibu, ketiga adik-adikku, dan beberapa anggota keluarga lainnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya diam dan menangis terisak-isak. Melihat tubuh dan bajuku yang terlihat kumal, lalu ibu membawaku ke kamar dan membersihkan tubuhku dengan air hangat serta mengganti pakaianku dengan yang bersih. Selama tubuhku dibersihkan, lidahku kelu. Bibirku rasanya berat sekali untuk digerakkan. Aku tidak memiliki kekuatan untuk bercerita dan mengingat kembali seperti apa kronologis dan penderitaan yang aku alami. Pasalnya semua data, buku-buku, dan KTP, ada di dalam tas yang tertinggal di ruangan tempat aku dikurung oleh penculik itu.

Hingga kini, aku pun masih dicekam rasa ketakutan. Tidak ada perlindungan dari kepolisian atau pihak yang berwenang. Orangtuaku pun tidak memindahkan aku, meski hanya untuk sementara tinggal bersama saudaraku. Maklum saudara ibu ataupun ayah juga memiliki perekonomian yang sama dengan keluargaku. Satu-satunya perlindungan untukku, dilakukan sendiri oleh ayah dan ibuku. Mereka secara bergantian mengantarku kemana pun aku pergi.

Aku sangat trauma, aku takut ke luar rumah, bahkan untuk bertemu laki-laki asing yang tidak pernah aku lihat. Terlebih seperti pria yang berperawakan seram dengan tubuh yang tinggi besar dan berkulit hitam mirip seperti orang Negro. Namun aku masih bisa bersyukur kepada Allah SWT, karena “matahariku” tidak direnggut oleh laki-laki itu, meski saat ini, aku masih menahan rasa sakit di bagian bahuku yang berwarna biru juga dengan tubuh yang terasa remuk. Dan aku juga bersyukur karena hanya aku yang berhasil melarikan diri dari ketiga penculik itu. Tentang nasib kedua gadis yang bersamaku, kini aku sudah tidak tahu lagi bagaimana nasibnya. Karena aku hanya mampu berfikir dan berusaha melarikan diri sendiri. Semoga saja mereka memiliki keberanian yang sama sepertiku sehingga tidak sampai dijual dan dijadikan PSK oleh ketiga laki-laki biadab itu. Noprica Handayani

Susah Tidur Bisa Membuat Cepat Tua

Insomnia atau gejala sulit tidur, pasti pernah dialami banyak orang. Seringkali masyarakat berpandangan bahwa sulit tidur diidentikkan dengan insomnia, padahal belum tentu. Insomnia adalah salah satu penyakit gangguan tidur yang dapat menyebabkan penuaan dini. Bagaimana cara mengatasinya?

Tidur adalah suatu keadaan alami, teratur, berulang yang ditandai dengan ketenangan diri dan frekuensi pernapasan yang stabil. Bila kualitas tidur seseorang tidak bisa memenuhi kondisi ini, maka sudah dapat dipastikan jika ia mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur biasanya terjadi sebagai gejala awal dari penyakit mental. “Karena pada umumnya, gangguan mental disertai dengan perubahan karakteristik dalam fisiologi tidur,” terang Indrias Ardhani Ardhiana, M.Psi, Psikolog yang praktik di Lanizra Conselling.

Ada 99 klasifikasi jenis gangguan tidur, antara lain insomnia, hypersomnia parasomnia, gangguan nafas, sleep apnea, narkolepsi, sirkedian ritem disorder, dan masih banyak lagi. Namun, jenis gangguan tidur insomnia-lah yang paling sering terjadi dan paling dikenal. Yang perlu diketahui, insomnia adalah salah satu jenis gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan berulang untuk memulai tidur atau mempertahankan tidur.

Insomnia. Menurut dokter spesialis gangguan tidur, dr Andreas Prasadja, RPSGT (Registered Polysomnographic Technologist), insomnia merupakan salah satu bentuk penyakit. Insomnia tidak dipengaruhi oleh faktor umur seperti orang yang sudah lanjut usia atau orang dewasa yang memiliki aktivitas tinggi atapun beban pikiran yang berat, namun dapat dialami oleh segala usia bahkan anak-anak yang berusia tiga tahun. “Mereka yang sudah lanjut usia, memang kebutuhan tidurnya sudah berbeda. Kalau itu wajar saja dan bukan insomnia,” tutur dr Andreas yang ditemui di RS Mitra Kemayoran, Jakarta Pusat.

Selama ini, lanjut dr Andreas, gangguan tidur yang banyak ditemui adalah adjustment insomnia, yaitu mereka yang tidak bisa tidur karena faktor kebiasaan. Misalnya seseorang yang berusaha untuk tidur dengan memejamkan mata dan terus berbaring di tempat tidur. Padahal, ia tidak bisa tidur. Akibatnya, justru semakin gelisah, semakin kesal dan semakin terjaga.

Tanda-Tanda. Beberapa tanda penderita insomnia, antara lain kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur. Keadaan ini berlangsung sekurang-kurangnya satu bulan. Tanda yang lainnya yaitu kelelahan yang terjadi pada siang hari, sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas pekerjaan, sosial atau yang lainnya.

Yang perlu diketahui, insomnia tidak terjadi karena adanya gangguan pernafasan, gangguan mental seperti depresi berat atau gangguan kecemasan umum, dan bukan merupakan efek samping dari penggunaan obat-obatan. “Jadi seseorang dikatakan menderita insomnia jika bukan karena tiga hal tersebut. Itu pun jika sudah terjadi selama satu bulan,” tutur Indrias.

Pemicu dan Penyebab.
Ada banyak faktor pemicu terjadinya insomnia. Mulai dari masalah jam tidur yang di luar kebiasaan atau penyakit tertentu seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dangairah seks yang menurun.

Sementara itu, faktor penyebab terjadinya insomnia yaitu pola hidup yang tidak baik, kebiasaan tidur yang buruk dan pengaruh dari kondisi kesehatan. Misalnya mengonsumsi kafein di sore hari, melakukan olahraga di malam hari, ada bagian tertentu dari organ tubuh yang dikeluhkan, hingga kebiasaan ‘berangkat’ tidur dalam kondisi yang tidak ‘siap’. “Siap yang dimaksudkan, tidak hanya rasa kantuk saja, tapi juga dalam keadaan rileks,” jelas dr Andreas.

Menurut dr Andreas, sebelum tidur hendaknya bersantai dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan, namun menenangkan. Misalnya membaca atau sekadar melakukan perawatan kulit. “Ini boleh dilakukan sesekali. Karena jika ini dilakukan terus-menerus malah dapat menyebabkan susah tidur,” papar dr Andreas.
Dampak. Pada orang dewasa, dampak insomnia dapat menurunkan kemampuan kognitif seperti penurunan konsentrasi, gangguan mental, timbulnya penyakit hipertensi, diabetes, dan yang paling berpengaruh adalah tingkat emosional. Dampak lainnya yaitu mempercepat terjadinya penuan dini, dan itu terlihat jelas dari wajah dan kantong mata.

Namun bila insomnia terjadi pada anak – anak, akan berdampak pada kekebalan tubuh. Karena peningkatan sistem daya tahan anak-anak, dapat meningkat secara optimal pada saat anak-anak tidur. “Dicekokin vitamin saja tidak akan berpengaruh pada kekebalan tubuh anak, karena sistem daya tahan tubuh anak meningkat pada saat mereka tidur,” kata dr Andreas.

Penanganan.
Salah satu cara yang bisa dicoba untuk mengatasi insomnia, yaitu dengan menambah jumlah jam tidur, sesekali waktu. “Mungkin awalnya satu hari dalam seminggu. Terus dua hari dalam seminggu. Nanti lama-kelamaan pasti bisa tidur dengan jumlah waktu tidur yang dibiasakan itu,” ujar dr Andreas.

Selain itu, upayakan untuk hidup sehat. Adapun hidup sehat harus memperhatikan tiga faktor, yaitu physical fitness, nutritional balance, sleeping beauty. Physical fitness adalah olah raga. Olahraga yang cukup dapat menjaga kebugaran tubuh. Lakukan olahraga secara rutin minimal dua kali seminggu dengan frekuensi 30-60 menit. “Tidak harus jenis olahraga tertentu kok. Lakukan olahraga jenis apapun, dapat menjaga kebugaran tubuh,” ucap dr Andreas.

Nutritional balance atau keseimbangan nutrisi yaitu menjaga asupan makanan dengan memperhatikan nutrisi yang seimbang agar badan mendapat nutrisi yang cukup. “Misalnya kebutuhan karbohidrat, lemak, protein dan vitamin semua tercukupi dengan asupan makanan. Kalau memang tidak, bisa ditambah dengan suplemen-suplemen tertentu, asal semuanya seimbang,” tegas dr Andreas.
Faktor yang terakhir dan menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya yaitu tidur yang sehat. Kategori tidur sehat, memenuhi kebutuhan jam tidur yang cukup serta kualitas tidur yang baik.

Lantas bagaimana dengan obat-obat yang banyak beredar di pasaran, yang ditujukan untuk mempermudah tidur? Berbahayakah? Menurut dr Andreas, obat-obatan yang tersedia bebas di pasaran, tidak dapat mengatasi insomnia. “Memang obat tidur yang banyak beredar dipasaran bisa bikin tidur, tapi waktu bangun tidur, tubuh tidak segar,” ucap dr Andreas. Ini dikarenakan sifat obat tidur, hanya sementara. Noprica Handayani


Tips untuk Mendapatkan Tidur yang Baik dan Sehat
Ada beberapa cara yang perlu diperhatikan agar mendapatkan kebiasaan tidur yang baik dan sehat:
1.Penuhi jam istirahat malam minimal delapan jam per hari.

2.Sembilan jam sebelum tidur, hindari konsumsi kafein. Karena kafein baru hilang dari peredaran darah setelah 9 – 12 jam kemudian. Tentunya hal ini akan mengganggu waktu tidur Anda.

3.Tiga jam sebelum tidur, usahakan Anda sudah selesai melakukan olahraga. Olahraga memang membuat tubuh lelah, tapi justru meningkatkan kadar adrenalin yang menyegarkan otak. Sehingga bukannya menjadi ngantuk, tubuh akan semakin segar.

4.Satu jam sebelum tidur, tinggalkan semua pekerjaan dan biasakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan namun bersifat santai. Hindari aktivitas yang membuat kita excited.

5.Jika sudah benar-benar mengantuk, sebaiknya segera naik ke tempat tidur. Jangan melakukan kegiatan apa pun di tempat tidur selain tidur dan berhubungan seks.

Sabtu, 18 April 2009

’Memangkas’ Child Abuse

***Ini tulisan lama. Semoga ada manfaatnya bagi pembaca***

Jakarta, 6 April 2008


Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Seto Mulyadi mengatakan, akar permasalahan kekerasan terhadap anak adalah kesalahan paradigma. Paradigma yang berkembang saat ini di masyarakat adalah bahwa anak merupakan hak milik orangtua dan mendidik serta mendisiplinkan anak harus dengan kekerasan. “Hal tersebut membuat orangtua menganggap bisa melakukan apa saja pada anak, termasuk dengan kekerasan. Padahal, mendidik tidak harus dengan kekerasan,” tuturnya.

Kesalahan paradigma itu kemudian diperparah dengan misalnya, kondisi ekonomi keluarga, stres baik pada anak maupun anggota keluarga, penyakit gangguan mental orang tua, kondisi lingkungan yang buruk, dan sebagainya. “Intinya adalah kesalahan paradigma yang kemudian dipicu oleh hal-hal lain”.

Faktor lain yang bisa memicu kekerasan pada anak misalnya (1) anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku, autisme, terlalu lugu, temperamen lemah, ketidaktahuan anak akan hak-haknya, dan terlalu bergantung kepada orang dewasa, (2) kemiskinan keluarga dan banyaknya jumlah anak dalam keluarga, (3) keluarga pecah akibat perceraian, ketiadaan ibu dalam jangka panjang, atau keluarga tanpa ayah, (4) keluarga yang belum matang secara psikologis, ketidakmampuan mendidik anak, harapan orang tua yang tidak realistis, anak yang tidak diinginkan atau anak lahir di luar nikah, (5) penyakit gangguan mental pada salah satu orang tua, (6) pengulangan sejarah kekerasan, yaitu orang tua yang dulu sering ditelantarkan atau mendapat perlakuan kekerasan kemudian memperlakukan anaknya dengan pola yang sama, dan (7) kondisi lingkungan sosial yang buruk dan keterbelakangan.

Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan kekerasan pada anak itu?

Kekerasan pada anak atau child abuse adalah segala macam perilaku terhadap anak, baik berupa tindakan fisik, ucapan verbal, termasuk penelantaran (child neglect) terhadap anak yang menimbulkan dampak berupa cedera fisik atau emosi, baik yang berjangka pendek atau berkepanjangan.

“Jadi apapun tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa yang menyebabkan seorang akan menjadi sakit secara fisik maupun emosional bisa dikategorikan sebagai tindak kekerasan terhadap anak,” jelas Seto.

Jika mau dikategorikan, kekerasan pada anak atau child abuse ada empat macam. Pertama emotional abuse, yaitu kekerasan yang terjadi ketika orang tua atau pengasuh atau pelindung anak mengetahui anaknya meminta perhatian namun justru mengabaikan anak itu. Kedua verbal abuse, terjadi ketika orang tua atau pengasuh atau pelindung anak mengetahui anaknya meminta perhatian namun justru menyuruh anak itu diam dan terus menerus menggunakan kekerasan verbal seperti “kamu cerewet,” “kamu pengganggu,” dan sebagainya.

Ketiga physical abuse, terjadi ketika orang tua atau oengasuh dan pelindung anak memukul, mencubit atau menjewer anak (melakukan tindakan fisik). Keempat sexual abuse, yaitu kekerasan seksual seperti pelecehan anak, pemerkosaan, dan sebagainya.

Komnas PA mencatat pada tahun 2003 terdapat 481 laporan kasus kekerasan terhadap anak. Jumlah tersebut meningkat menjadi 547 laporan kasus kekerasan pada 2004, dengan 221 kasus merupakan kekerasan seksual, 140 kekerasan fisik, 80 kekerasan psikis dan 106 permasalahan lainnya.

Kemudian tahun 2005 meningkat menjadi 736 kasus kekerasan di berbagai daerah. Dari kasus tersebut, 327 kasus merupakan tindakan kekerasan seksual, 233 kasus secara fisik, 176 kasus secara psikis, dan 130 kasus penelantaran anak.

Laporan kasus tindak kekerasan pada anak meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Kak Seto –sapaan akrab-, ini bisa berarti kasus kekerasan memang terus meningkat atau, masyarakat sudah semakin sadar bahwa kekerasan pada anak itu tidak bisa dibenarkan sehingga mereka kemudian melapor.

Indonesia memang sudah mempunyai perangkat hukum yang melindungi anak, yakni UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang merupakan ratifikasi dari Konvensi Hak Anak (KHA), dan juga UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dan UU No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Meski demikian, implementasi dari UU tersebut masih belum optimal. Bahkan UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak belum memiliki Peraturan Pemerintah (PP).

Jika kita ingin membandingkan dengan negara tetangga, Malaysia sejak awal 1990-an telah membentuk Suspected Child Abuse and Neglect Team (SCAN TEAM) yang keberadaannya diakui oleh seluruh jajaran pemerintahan sampai pada tingkat rukun tetangga, serta anggota timnya terdiri dari relawan masyarakat, pegawai kerajaan, angota kepolisian dan profesi kesehatan. Lalu Australia juga sudah memiliki Departemen of Children and Youth Affair.

Menurut Ketua Satuan Tugas Perlindungan dan Kesejahteraan Anak Pengurus Pusat Ikatan
Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Indra Sugiarno, pemerintah seharusnya memosisikan anak sebagai objek pembangunan bangsa pada umumnya. “Pemerintah harus fokus untuk menjadikan anak sebagai salah satu tujuan pembangunan nasional. Artinya, manakala anak dijadikan tujuan pembangunan bangsa, maka hal-hal yang terkait dengan anak akan menjadi prioritas pemerintah,” jelas dokter yang juga staf pengajar Departemen Forensik FKUI.

Persoalan kekerasan memang menjadi concern kita semua. Sayangnya, menurut Indra, upaya pencegahan penggiat perlindungan anak banyak lebih ke arah hilir, bukan di hulu, jadi lebih yang sudah jadi korban. “Padahal seharusnya kita lebih menggarap yang belum jadi victim, yakni anak-anak dan pemenuh hak-hak anak. Caranya dengan edukasi tentang hak-hak anak,” ujarnya.

Senada dengan Seto, yang terpenting adalah bagaimana mengubah paradigma orang tua serta memberi edukasi dan pengetahuan untuk orang tua tentang pentingnya melindungi hak-hak anak sehingga kekerasan pada anak bisa dicegah.

Mengutip dari Finkelhor and Browne (1986), Lukas Mangindaan mengatakan dampak kekerasan pada anak dapat tertunda ke dalam usia dewasa, dengan gejala-gejalaberupa : (1) depresi, perilaku mencederai diri, kecemasan dan perasaan terasing, (2) rasa dirinya ada stigma dan rasa dirinya tidak adekuad (tidak memadai), kesukaran mempercayai orang lain, (3) kecenderungan melakukan hal yang sama pada orang lain,(4) penyalahgunaan zat dan gangguan dalam kehidupan seksual dan (5) pada banyak kasus penganiayaan seksual di masa kanak-kanak, dapat timbul gangguan disosiasi, misalnya kepribadian ganda.

Luar biasa, bukan? Bagaimana jadinya negeri ini kelak jika kekerasan pada anak masih
tetap terus dibiarkan. Mengutip Kak Seto, “Negeri ini akan hancur jika kita tidak melindungi anak dari kekerasan”.

‘Memangkas’ child abuse memang harus dilakukan oleh semua pihak. Ada baiknya pembenahan dilakukan di hulu sebelum berujung pada kehancuran sebuah bangsa. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai anak-anak… (Noprica Handayani)

Anak ‘Penggerak’ Roda Kehidupan?

Matahari sudah mulai beranjak naik ke puncak kepala. Sinarnya yang semula hangat kini perlahan menyengat. Sudah pukul sebelas siang. Beberapa jam sudah berlalu semenjak Novi (8 tahun) berangkat dari rumah selepas subuh tadi.

Novi loncat ke angkutan kota D03, jurusan Depok-Parung. Biasanya ia langsung menggoyang-goyangkan botol minuman berisi beras lalu bernyanyi. Tapi kali ini tidak. Ia menyodorkan tangan dan berkata, “Kak, minta uang, Kak..”

“Kamu tinggal di mana?”

“Di Lio,” jawabnya.

“Nggak sekolah?”

“Masuk siang,” jawabnya lagi.

Usai menggamit duit Rp 5.000, Novi lantas berkumpul dengan bocah pengamen lainnya pada sebuah bangunan di tengah terminal Depok. Setelah cukup beristirahat, ia kembali meloncati satu demi satu angkot. Hingga menjelang sore. Dan, ia tak jua berangkat ke sekolah.

Ia kemudian diberi uang lima ribu rupiah dan ngeloyor pergi menuju ke sebuah bangunan di tengah terminal. Bukan bangunan, sebenarnya. Hanya atap yang ditopang oleh tiang-tiang kayu, tempat beristirahat para supir angkot dan pedagang. Di situ menunggu temen-temannya yang lain. Ia menunjukkan uang yang ia dapat pada teman-temannya. Ia juga menunjuk orang yang memberi uang lima ribu rupiah itu. Seorang perempuan yang tampak seperti mahasiswa.

Menurut data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), di Indonesia terdapat 1,6 juta anak-anak usia 7 hingga 12 tahun tidak bersekolah, seperti Novi. Sejak 1999, jumlah anak jalanan di Indonesia meningkat 85 persen, mengacu hasil survei Susenas.

Novi hanya dari sekian banyak anak yang bekerja sebagai pengamen atau pengemis. Ada Deden (9) yang juga biasa menjual suara di gerbong-gerbong kereta. Saban hari Deden juga berangkat selepas subuh. Siang itu Deden menyusuri gerbong KRL jurusan Bogor-Kota. Tak jarang, jika letih, Deden naik ke atas gerbong dan duduk di sana saat kereta berjalan. Meski berbahaya, Deden mengaku senang.

Bagaimana tidak, pendapatan hasil mengamennya saja minimal Rp50 ribu per hari. “Uangnya buat Bapak dan buat jajan,” katanya. Tidak buat bayar sekalah, Den? “Nggak, kata emak, ngapain sekolah. Sekolah mahal. Mendingan bantuin cari duit,” jawabnya polos.

Begitu pula nasib Rama Ramdi (9), warga miskin Depok. Sejak usia empat tahun ia mencoba mengais rezeki sebagai pengamen mengikuti ibunya, Rostinah (38). Dengan tergerusnya waktu, Rama Ramdi akhirnya belajar mengumpulkan kepingan-kepingan rupiah dari hasil mengamennya. Rata-rata Rama mendapat Rp 20.000 saban harinya. Lantaran masih belum cukup, Rostinah ‘mengutus’ anak pertamanya, Eni Sulastri (18), menjadi TKW di Kuwait, meski Eni harus kehilangan bangku kelas 3 SMP-nya saat itu.

Secara teoritis, membiarkan anak bekerja sebagai pengemis atau pengamen merupakan bagian dari eksploitasi, yakni memanfaatkan anak untuk mendapatkan keuntungan. Apakah anak ‘penggerak’ roda kehidupan?

“Itu jelas pelanggaran hak anak,” tutur Ketua SPK PPIDAI, dr Indra Sugiarno. Hanya saja, persoalannya tak sehitam-putih itu. (ica)